Sasih Kenem Yang Keramat dan Penuh Berkah

Pemdes Menyali 27 Desember 2019 13:50:31 WITA

Manusia Bali memberi perhatian khusus pada Sasih Kanem. Sasih Kanem kerap kali paling ”ditakuti”. Sasih Kanem dimaknai awam sebagai awal merebaknya aneka penyakit atau pun hama. Banyak orang jatuh sakit. Begitu juga tanaman tak sedikit yang rusak dimakan hama.

Memang, dalam tradisi wariga Bali, Sasih Kanem merupakan saat Dewi Durga beryoga. Sasih Kanem juga berada dalam naungan kuasa Batara Guru (Siwa). Kini, Dewa Siwa tengah menguasai arah barat daya.

Bila saat sasih Kanem terjadi gempa bumi, ramalan tradisional Bali menyebutkan akan banyak orang susah menjalani hidup. Manusia menjadi liar. Karena itulah, Anda diingatkan untuk waspada berbicara. Jika sampai pembicaraan Anda membuat telinga orang panas, keributan akan mudah tepantik. Bencana alam pun biasanya mengintai dan pencuri bergentayangan tanpa rasa takut.

Secara faktual, Sasih Kanem merupakan musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Hujan yang turun pada Sasih Kanem lebih lebat dari pada hujan saat Sasih Kalima. Musim pancaroba tentu saja berdampak pada kondisi alam. Pada akhirnya, kondisi alam yang berubah itu berakibat juga pada kondisi manusia. Jika daya tahan tubuh tidak cukup kuat, maka sakit akan amat mudah menghampiri. Lantaran hujan mulai turun, udara mulai terasa lembap. Matahari kerap pula terselimuti mendung. Akibatnya suhu udara menjadi gerah. Kondisi ini tentu mudah memicu sakit flu, demam atau pun batuk-batuk.

Terlebih lagi, pada Sasih Kanem ini, lalat kian berbiak saja. Lalat merupakan salah satu spesies penyebar penyakit. Pasalnya, lalat dengan mudah hinggap di tempat-tempat paling kotor tetapi juga pada saat yang tidak lama bisa dengan mudah hinggap di tempat makanan.

Karena itu,sangat penting artinya memperhatikan kebersihan lingkungan sepanjang Sasih Kanem ini. Sanitasi mesti dijaga agar benar-benar bersih. Jangan juga membiarkan makanan terbuka hingga mudah dihinggapi lalat.

Pada Sasih Kanem bukan hanya manusia dan hewan yang mudah terserang penyakit. Tanam-tanaman juga amat gampang dirajam hama sepanjang Sasih Kanem ini. Karenanya, pada Sasih Kanem orang Bali biasanya melaksanakan upacara nangluk merana, upacara mengusir hama.

Akan tetapi, Sasih Kanem juga merupakan saat tepat untuk mulai meladang. Hujan pertama Sasih Kanem akan menyegarkan Ibu Bumi. Sang pengabdi Ibu Bumi, para petani, para peladang biasanya akan mencangkuli tanah pada Sasih Kanem.

Namun, untuk melaksanakan upacara yadnya yang direncanakan (ngewangun) semisal upacara pawiwahan (pernikahan), ngaben maupun ngenteg linggih, umumnya akan menghindari Sasih Kanem. Anda disarankan untuk menunda dulu upacara-upacara tersebut minimal sebulan dengan mencari Sasih Kapitu. Yang paling baik, disarankan mencari Sasih Kadasa. Sasih Kanem biasanya dijadikan saat tepat untuk melaksanakan upacara bhuta yadnya, seperti macaru. sasih karo baik untuk pitra yajña, sasih caitra baik untuk bhuta yajña. Sasih kapat dan kadasa baik untuk upacara dewa yajña, sehingga saat purnamaning kapat dan kadasa kita melihat umat Hindu melaksanakan upacara odalan pada pura-pura besar seperti : khayangan jagat, sad khayangan, dang khayangan, khayangan tiga dan sebagainya. Masih banyak lagi padewasan memperhitungkan ala ayuning sasih.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

AMBULANCE DESA

SILAHKAN HUBUNGI 081997726261 (I Gede Atita)

Sukai Kami

Kalender Bali

Lokasi Menyali

tampilkan dalam peta lebih besar